KISAH BAND GRINDCORE NOXA MENGIBARKAN MERAH PUTIH DI EROPA

Minggu, 26 Desember 2010 | 10:45 WIB

http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/12/26/brk,20101226-301583,id.html

foto

KISAH BAND GRINDCORE NOXA MENGIBARKAN MERAH PUTIH DI EROPA
Minggu, 26 Desember 2010 | 10:45 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/12/26/brk,20101226-301583,id.html

Band Noxa di Obscene Extreme Festival 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pada 2010, nama Indonesia harum di salah satu festival musik ‘bawah tanah’ di Eropa. Band beraliran grindcore asal Indonesia, Noxa, mengibarkan Merah-Putih di Obscene Extreme Festival 2010. Lewat musik dan syair-syairnya, Noxa menghipnotis para pemuja musik cadas pada festival musik grindcore terbesar di dunia tersebut.

Bahkan, CD kompilasi Obscene Extreme Festival 2010 bertajuk Silence Sucks! didedikasikan untuk penggebuk drum pertama Noxa, almarhum Robin Hutagaol.

Setelah Robin wafat, Noxa kini digawangi Tonny pada vokal, Nyoman pada bass, Ade pada gitar, dan Alvin pada drum. Aksi Noxa mengusung Merah Putih di dunia musik cadas internasional bukan pertama kali. Pada akhir Juni 2008, Noxa menggila di Tuska Metal Fest 2008 yang digelar di Helsinki, Finlandia. Konser tersebut merupakan salah satu konser musik beraliran metal terbesar di kawasan Skandinavia.

Meski ditinggal Robin, Noxa tetap unjuk gigi. Gitaris Noxa Ade Hirmenio Adnis menceritakan perjalanan mereka ‘merampok’ hati para pemuja musik grindcore di Republik Cek pada Juli lalu. Berikut ini kisahnya:

Tur Noxa 2010

Berawal dari saling bertukar surat elektronik dengan pendiri sekaligus pemilik label bernama Obscene Record, Curby, Noxa akhirnya diundang di acara Obscene Extreme Festival 2010. Saat itu, Curby meminta informasi mengenai penggebuk drum Noxa pertama, Robin Hutagaol, yang wafat karena kecelakaan sepeda motor pada 17 Januari 2009. Curby sendiri merupakan pendiri label rekaman Obscene Record yang memiliki acara festival besar tahunan Obscene Extreme Festival.

Pada 2005 dan 2007, almarhum Robin Hutagaol sudah pernah berkunjung ke Obscene Extreme Festival dan mengajukan Noxa untuk bisa tampil tampil di acara itu. CD Noxa berisi album perdana dan kedua juga sebelumnya pernah pula dititip untuk dipromosikan di Obscene Extreme Festival.

Setelah bertukar surat elektronik dengan Curby, akhirnya kami sesama anggota Noxa rembukan untuk menanggapi hal tersebut. Noxa saat ini digawangi Ade (gitar), Tonny (vocal), Dipa (bas), dan Alvin (drum) sebagai pengganti Robin (RIP). Dengan keputusan bulat dan tekad yang kuat, akhirnya kami sepakat untuk memenuhi undangan tampil di Obscene Extreme Festival 2010 yang lokasinya di Trutnov yaitu bagian utara Republik Ceko, Noxa juga melakukan tur dua gigs lagi di Budejovice dan Praha. Sehingga total Noxa tampil tiga kali di tiga kota Republik Cek.

Kami punya jadwal tiga kali tampil di sana. Pertama, pada 13 Juli di Budejovice dengan nama tempat Club Fabrika. Jaraknya kira-kira 160 kilometer atau tiga jam dari Praha ke arah selatan Cek. Lalu 14 Juli di Praha. Nama tempatnya Rock Club Kain. Letaknya di kota Praha zona 4, Dan terakhir pada 15 Juli main di Obscene Extreme Festival 2010. Lokasi festival di Trutnov yang jaraknya juga sekitar 2,5 jam ke arah utara dari kota Praha.

Sebelum berangkat ke Republik Cek, kita mendapat sokongan dari teman-teman band asal Jakarta. Ada sekitar 21 band yang mendukung Noxa dalam sebuah acara yang diberi nama “All Of The Same Blood” yang diadakan pada 27 Juni 2010 di Bulungan Jakarta Selatan, Band yang mendukung Noxa dan tampil di acara tersebut berasal dari berbagai genre mulai brutal death metal, death metal, progressive death metal, thrash metal, hardcore, metalcore dan juga punk,

Band yang tampil: Siksa Kubur, Prosatanica, Paper Gangster, Killed By Butterfly, Invictus, Godzila, Thinking Straight, Divine, Inlander, Gigantor, Slimer, Disagree, The Borstal, Tyranny, Fragment Of Machine, People Shit, Traitor, Basterd, dan Grievance. Kami dari Noxa juga mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan kawan-kawan sesama scene underground yang mudah-mudahan ke depannya kita bisa makin bersatu dan lebih solid lagi.

Tanggal 29 Juni kita sudah mendapatkan visa untuk bisa berangkat ke Republik Cek. Akhirnya kita berangkat tanggal 11 Juli dinihari dengan tiket yang sudah kita beli sekitar satu bulan sebelum berangkat. Kami tiba di Praha pada 11 Juli 2010 sore hari di Praha. Kami disambut Karel (panitia pre-OEF). Kita bermalam di apartemen yang sudah disediakan panitia.

Cuaca di sana ternyata sangat panas. Suhu sekitar 39-40 Celsius, Menurut orang sana, cuaca itu tidak biasa karena biasanya suhu saat musim panas hanya sekitar 15-20 Celsius. Mungkin karena saat ini sedang pemanasan global, jadi panasnya luar biasa pada saat musim panas. Dan ini terjadi juga di seluruh wilayah Eropa, bukan di Republik Cek saja.

Pada 12 Juli 2010 sore, kami langsung berkemas menuju Budejovice. Kami hanya membawa keperluan untuk manggung saja. Beberapa barang yang besar-besar kami tinggal di apartemen karena kita akan balik lagi 14 Juli dan bermalam di apartemen yang sama. Di Budejovice, kami ditemani Rob, panitia dari pre-OEF. Rob merupakan gitaris band grindcore asal Cek, Ingrowing, dan band hardcore Locomotive. Orangnya sangat menyenangkan. Kita diajak makan malam bersama beliau di City Centre Budejovice dan bermalam di apartemen yang sudah disiapkan panitia juga.

Pada 13 Juli 2010 sore, kami bersama Rob menuju venue tempat acara untuk manggung di hari pertama. Di venue kita pun melakukan sedikit latihan karena kita sudah lama enggak pemanasan sekalian check sound. Setelah selesai setting instrument, sound system, dan sedikit latihan, kita pun setting tempat untuk menjual merchandise. Letaknya di dekat pintu masuk tempat acara.

Noxa main di urutan ketiga di acara tersebut dengan urutan band pada saat itu yaitu band crust-punk lokal dari Budejovice, lalu band crust-grind asal Prancis “Whoresnation”, kemudian Noxa, dan terakhir Xaros band crust-grind asal Prancis juga.

Noxa tampil dengan sukses. Pengunjung yang membeli tiket dari data panitia berjumlah sekitar 80 orang di mana MC Fabrika ini adalah pub kecil yang berkapasitas 100 orang.

Acara berjalan dengan lancar dan sukses. Kami juga menjual kaus dan merchandise Noxa di sana dan ternyata lumayan banyak juga yang beli. Menurut orang sana, kalau band kita bagus dan mereka suka, biasanya mereka akan membeli merchandise yang kita bawa. Wah berarti mereka suka dengan Noxa.

Keesokan harinya pada 14 Juli 2010 pagi, kami berkemas menuju Praha. Sampai Praha, kami besama panitia berkemas menuju tempat acara di “Rock Club Kain” sebuah pub metal di Praha zona 4. Noxa tampil bersama beberapa band lain yaitu band crust-grind asal Belanda, Krush; band grindcore asal Swedia, The Arson Project; band grindcore asal Inggris+Cek, Hovadah. Ada juga dua band grindcore Prancis yang juga tampil di Budejovice bersama Noxa yaitu Xaros dan Whoresnation.

Jumlah penonton yang hadir memenuhi pub tersebut sekitar 150 orang. Di tempat tersebut, tiap band juga diberi kesempatan untuk menjual dan melakukan transaksi jual-beli merchandise. Acara berjalan dengan sukses dan respons penonton terhadap Noxa juga sangat baik. Hal tersebut terlihat dari penonton yang melakukan mosh pit dari lagu ke lagu.

Pada 15 Juli, Noxa kembali melanjutkan perjalanan menuju Trutnov yang jaraknya sekitar 150 kilometer atau 2,5 jam dari Praha. Di Trutnov inilah acara Obscene Extreme Festival 2010 berlangsung dengan total 66 band yang tampil selama tiga hari dari 15 sampai 17 Juli 2010. Jumlahh penonton mencapai sekitar 30 ribu. Sementara band yang tampil di antaranya DRI, Misery Index, Incantation, Doom, Cripple Bastard, General Surgery, Cattle Decapitation, Haemorrhage, Malignant Tumour, Ingrowing, dan Master.

Pada festival ini, 80 persen band yang tampil adalah band dengan segala jenis aliran grindcore. Sisanya brutal death, death metal, dan crust punk. Pada hari itu, 15 Juli 2010, Noxa main pada pukul 18.15. Pada saat tampil, antusiasme penonton sangat besar dilihat dari penonton yang moshing dan stage diving saat Noxa tampil. Di akhir penampilan, Noxa sempat membentangkan bendera Merah Outih di hadapan ribuan penonton yang datang dari berbagai belahan Eropa dan Amerika pada hari itu.

Noxa selama tur di tiga titik membawakan 14 lagu yang diambil dari album pertama Noxa: Wake Up And Stand Up, Shitty People, Close Minded, Against Humanity dan Ajeng. Dan lagu dari album kedua kami Grind Viruses antara lain : Hancur, Dying Inside Out, Sinetron Sucks, Grind Viruses, Starvation, Lembata, Poligami, dan Catastrophe.

Pada acara Obscene Extreme Festival 2010, panitia juga membuat CD berisi kompilasi dari band-band yang tampil di acara tersebut. CD ini diisii 38 band di antaranya Misery Index, Doom, Cripple Bastard, Haemorrhage, General Surgery. Jumlah lagu dalam CD tersebut sebanyak 45. CD kompilasi Obscene Extreme Festival yang diadakan tahun ini diberi nama Silence Sucks! CD tersebut dipersembahkan untuk Robin Hutagaol (RIP) drummer pertama Noxa, dan pada cover OEF CD Compilation tersebut juga ditampilkan foto Robin Hutagaol (RIP).

Noxa Sukses Tampil Di Festival Grindcore Terbesar di Dunia

Obscene Extreme 2010 di Republik Ceko didedikasikan bagi Alm. Robin Hutagaol.

http://rollingstone.co.id/read/2011/02/08/182938/1563563/1093/noxa-sukses-tampil-di-festival-grindcore-terbesar-di-dunia

Oleh: Wendi Putranto
image

Jakarta -

Kematian tragis drummer Robin Hutagaol karena kecelakaan lalu lintas di awal tahun lalu ternyata tidak membuat band grindcore Noxa berlarut-larut dalam kesedihan atau bahkan bubar jalan. Setelah sebelumnya merekrut seorang drummer muda berbakat, pada pertengahan Juli silam mereka rela meninggalkan anak-istri dan pekerjaan selama satu minggu untuk terbang selama 22 jam ke Republik Ceko guna memenuhi undangan tampil di Obscene Extreme Festival 2010.

Ajang ini merupakan festival musik grindcore dan death metal yang digelar tiga hari tiga malam pada saat musim panas setiap tahunnya sejak 1999 di Trutnov, Republik Ceko. Untuk festival Obscene Extreme tahun ini total ada 66 band dari seluruh dunia yang tampil dan para headliner-nya antara lain D.R.I., Misery Index, Cripple Bastards, Doom, Avulsed. Noxa sendiri tampil di hari pertama, Kamis (15/7) lalu.

Total selama sekitar 40 menit, Tonny (vokal), Nyoman (bass), Ade (gitar) dan Alvin (drums) memainkan set grindcore mereka yang ultra-cepat namun pendek dari album Grind Virus dan self-titled di hadapan ribuan metalhead Obscene Extreme yang datang dari berbagai negara di dunia. Bendera Merah Putih sengaja dipajang di head cabinet bass milik Nyoman sementara di depan drum set Alvin ikut dipajang pula topeng Barong khas Bali. Sambutan yang meriah dari para penonton yang ikut slam dance dan moshing (bahkan naik ke atas panggung) juga mengiringi penampilan Noxa.

”Terus terang kami bangga, karena walau datang dari negara antahberantah ternyata mereka bisa sangat menghargai penampilan kami,” jelas gitaris Ade Himernio ketika diwawancara di Rolling Stone Cafe beberapa waktu lalu.

”Kami bangga bisa tampil di festival Obscene Extreme ini, karena menurut metalhead di dunia dan teman-teman kami dari band Bloody Phoenix asal Amerika Serikat, ini adalah festival grindcore terbesar di dunia, hampir semua band grindcore besar sudah pernah tampil di sana,” jelas vokalis Tonny.

Yang lebih membanggakan lagi, festival Obscene Extreme tahun ini khusus didedikasikan bagi almarhum Robin Hutagaol oleh Obscene Productions selaku promotornya. Foto besar Robin terpajang di dua big screen yang ada di panggung Obscene Extreme Festival selama Noxa tampil di sana.

Bahkan di CD kompilasi Obscene Extreme 2010 juga terpampang foto Robin lengkap dengan kata pengantar yang berbunyi: ”This year festival CD is dedicated to Robin who always wished to play with his band, Noxa at Obscene Extreme Festival. Noxa is gonna  play this year and we all miss Robin very much. You’ll never be forgotten, bro!!! Peace!”

“Sebelum berangkat kami kaget juga sempat diminta foto almarhum Robin oleh Curby, promotor festivalnya. Dia bilang mau mendedikasikan festival tahun ini bagi Robin. Ternyata mereka sangat besar respeknya dengan almarhum,” jelas Ade Himernio, gitaris Noxa.

”Menurut Curby, almarhum Robin orang yang sangat baik dan pergaulannya luas, ia bahkan pernah dibawakan topeng Barong. Setiap datang ke Ceko Robin selalu memberi oleh-oleh, bahkan sebelum berangkat ke sana ia pasti menelepon dan bertanya mau dibawakan apa dari Indonesia,” imbuh Ade lagi mengutip kata-kata Curby.

Selain membawa misi menaklukan panggung musik internasional, ternyata Noxa datang jauh-jauh ke Republik Ceko dengan misi yang mulia. Mereka ingin memperkenalkan scene musik ekstrem di Indonesia dan tentunya menjadi duta besar metal yang ikut mempromosikan nama baik bangsa dan negara.

”Indonesia bukan negara yang buruk seperti yang sering mereka lihat di CNN dan itu gue omongin langsung ke mereka ketika manggung. Imejnya kan negara kita dianggap negara teroris, padahal kenyataannya bangsa kita udah terbiasa hidup berdampingan berbeda agama dan suku sudah sejak sangat lama,” jelas Tonny bersemangat. Kebetulan di dalam Noxa sendiri para personelnya terdiri dari beragam suku dan beragam agama, mulai dari Kristen, Katolik, Islam dan Hindu.

Uniknya, tak lama setelah Noxa usai manggung mereka semua lantas berdagang merchandise di Grind Market yang letaknya tak jauh dari panggung utama. Walau bukan tergolong band headliner namun oleh pihak promotor Noxa diberikan merchandise booth yang letaknya sangat strategis dan bahkan bertetangga dengan band-band besar seperti D.R.I., Misery Index serta Doom.

Seusai tampil selama tiga hari berturut-turut lamanya mereka menghabiskan waktu di sana untuk memperluas jaringan bisnis dan menyaksikan penampilan berbagai band grindcore dan death metal dari seluruh dunia. Noxa bahkan juga sempat menerima tawaran untuk membuat album split di antaranya dengan band grindcore Swedia, The Arson Project

Beberapa hari sebelum tampil di festival Obscene Extreme ini Noxa juga sempat tampil di beberapa klub malam yang ada di dua kota berbeda di Republik Ceko. Seharusnya mereka juga dijadwalkan untuk tur di Perancis dan Jerman namun karena hanya mengambil cuti pekerjaan selama satu minggu akhirnya tur di kedua negara itu ditunda.

Perjuangan Noxa untuk tampil di Republik Ceko ternyata tidak mudah dan tentunya tidak murah. Ini karena pihak promotor tidak menanggung biaya penerbangan dan hanya menyediakan mereka akomodasi, konsumsi serta honor manggung selama mereka tur di sana. Tak mau menyerah dengan tekanan klasik seperti finansial, para personel Noxa pun memutar otak untuk mewujudkan impian mereka.

Sebagai band underground yang memiliki kredibilitas jalanan cukup baik di komunitas metal, Noxa lantas bekerjasama dengan concert organizer Solucites menggelar konser penggalangan dana bertajuk All of the Same Blood di Bulungan Open Air pada 27 Juni silam. Ikut tampil mendukung di acara itu antara lain Siksakubur, Gigantor, Paper Gangster dan sebagainya.

Konser dengan tiket seharga Rp 20.000 ini berjalan sukses dan dihadiri lebih dari 1500 orang penonton. Setelah dipotong biaya produksi, keuntungan yang di dapat akhirnya diserahkan kepada Noxa yang diperuntukkan untuk membeli tiket pesawat yang menerbangkan lima orang dalam rombongan Noxa ke Ceko.

”Kami bisa berangkat ke Ceko sebenarnya atas bantuan scene metal. Dukungan teman-teman semua, band yang main di acara itu dan para penonton yang membeli tiket di All of the Same Blood. Bantuan mereka cukup besar, 40% dari budget keberangkatan tertutup dari sana. Kami sangat berterimakasih untuk itu,” jelas Ade lagi.

Dari semua personel Noxa, ternyata hanya drummer Alvin yang merasa memiliki beban paling berat selama Noxa tampil di Republik Ceko. Selain sebagai personel paling muda, ini merupakan penampilan pertama drummer berusia 22 tahun ini di pentas metal internasional.

”Gue sebenarnya nggak menggantikan Robin. Gue cuma mengisi posisi drum yang ditinggalkan, karena bagi gue Robin sebenarnya nggak tergantikan. Sewaktu dia meninggal gue kaget dan sedih juga. Akhirnya semakin kaget lagi ketika diajak gabung dengan Noxa. Sebelumnya gue nggak pernah into grindcore, lebih ke hardcore. Senang juga ternyata bisa membawa nama Indonesia ketika manggung di luar negeri,” jelas Alvin.

Perjuangan Noxa dipastikan tak hanya berhenti sampai di Republik Ceko, agenda besar akan mereka hadapi tahun depan. Setelah merilis album baru Noxa rencananya akan kembali melanglang buana.

”Ada yang mengajak kami untuk bikin tur bareng di Jerman, Perancis dan Belanda, mudah-mudahan tahun depan bisa jadi kenyataan,” ujar Ade menutup sesi wawancara.

http://traxmagz.com/files/teasercontent/teaser__110822135022.jpg

Noxa. Foto oleh Ivan Victor Lucas

GARDA depan band grindcore tanah air, Noxa kembali membuat scene metal/grindcore kembali menggeliat dengan dirilisnya album baru setelah hampir 5 tahun absen. Bertajuk Legacy, album yang dirilis oleh Off The Records/Bravo Musik secara resmi pada tanggal 7 Juli 2011 lalu ini menjadi album ketiga mereka setelah Noxa [2003], dan Grind Virus [2006].

Total ada 19 lagu grindcore yang direkam dan dimastering dengan baik. Satu hal unik di album ini adalah hadirnya dua dramer yang mengisi pada beberapa track di album ini. Alvin, dramer baru mereka, mengisi pada track 1-12 sedangkan track 13-19 diisi oleh almarhum Robin Hutagaol saat mereka melakukan lawatan ke festival metal di Finlandia di tahun 2008.

http://www.traxmagz.com/files/image/NOXA-3rd1.jpg


Masuknya Alvin sedikit banyak memberikan suntikan warna baru di musik Noxa secara keseluruhan. Beat-beat hardcore banyak tercipta disini, namun mereka melihat secara keseluruhan, album ini tetap punya rasa sama dengan dua album Noxa sebelumnya. 

Sejak dirilis, album ini telah beredar di Singapura dan Malaysia, masing-masing sebanyak 500 keping. Tak hanya di Asia, album ini juga akan dipasarkan ke benua Eropa dan Amerika. “Kita masih menunggu kabar dari label di Eropa [Stay Heavy Records] untuk yang di Amerika, “ungkap mereka. 

Noxa sendiri mengawali karirnya di tahun 2002 dengan debut album mereka, Noxa dilanjutkan dengan album keduanya, Grind Virus [2006]. Bersama dramer Robin, Noxa melanglang buana sampai ke jagat metal internasional. Sederet arena festival bergengsi mereka sambangi, dari Tuska Metalfest di Finlandia di tahun 2010.<wahyu

Sepeninggal dramer Robin yang meninggal Januari 2009, Noxa tetap bangkit dan terus berjalan dengan formasi teranyar mereka: Ade (gitar), Tonny Christian Pangemanan (vokal), Nyoman Biomantara (bas), dan Alvin Eka Putra (dram).

Exposed
Noxa Rilis Album Baru
22/08/2011

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter